Penyakit Yang Ditandai Dengan Pertumbuhan Tubuh Terhambat

penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan tubuh terhambat, Setiap ibu pasti ingin melihat anaknya tumbuh dan berkembang menjadi lebih sehat, lebih pintar, lebih kuat, dan lebih tinggi, bukan? Untuk memenuhi pertumbuhan dan perkembangan tersebut, anak memerlukan gizi seimbang yang dapat diperoleh dari berbagai zat gizi, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Kurangnya asupan zat gizi tersebut dapat berdampak negatif, salah satunya akan muncul penyakit defisiensi protein, penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan tubuh terhambat akibat kekurangan protein.

Sebelum mengetahui apa itu penyakit kekurangan protein, Anda harus mengetahui terlebih dahulu pentingnya protein untuk tumbuh kembang anak. Protein berperan penting dalam membentuk dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak, membangun antibodi untuk melawan berbagai penyakit, dan memberikan energi agar anak tetap aktif selama beraktivitas. Ada sumber protein yang dibutuhkan Si Kecil setiap hari, mulai dari susu, telur, ikan, daging merah, daging putih, kacang – kacangan dan produk olahan lainnya.

Di dalam tubuh, sumber protein ini diolah menjadi 9 asam amino esensial atau 9AAE yang memiliki fungsi cukup penting untuk tumbuh kembang anak. Proses konversi protein ini terjadi karena tubuh si kecil tidak dapat memproduksi sendiri 9 asam amino esensial atau 9AAE, sehingga membutuhkan asupan makanan berprotein tinggi. Inilah sebabnya mengapa Anda perlu memberi si kecil nutrisi harian yang cukup untuk menghindari penyakit kekurangan protein.

Apa Nama Penyakit Akibat Kekurangan Protein?

Apa Nama Penyakit Akibat Kekurangan Protein

1. Penyakit Kekurangan Protein: Marasmus

penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan tubuh terhambat akibat kekurangan protein adalah Marasmus adalah penyakit yang disebabkan oleh kurangnya asupan protein dan kalori. Penyakit kekurangan protein ini dapat menyebabkan anak kehilangan lemak dan otot tubuh, sehingga pertumbuhannya akan terhambat, dan tidak seperti anak dengan kondisi yang normal pada umumnya.

Gejala utama penyakit marasmus adalah tulang lebih terlihat di permukaan kulit karena hilangnya lemak di jaringan tubuh dan wajah, kondisi kulit akan mengendur dan mata menjadi cekung. Selain itu, penyakit kekurangan protein pada anak dapat ditandai dengan gejala sebagai berikut:

  • Sering pusing
  • Badan lemas dan mudah lemas
  • Kulit kering dan rapuh
  • Menurunkan berat badan dan mudah sakit

Efek jangka panjang dari penyakit kekurangan protein seperti marasmus dapat menyebabkan komplikasi serius yang bisa berakibat fatal, seperti bradikardia yang ditandai dengan detak jantung yang sangat lambat dan hipotensi (tekanan darah rendah).

2. Penyakit Kekurangan Protein: Kwashiorkor

Pernahkah Anda mendengar penyakit kekurangan protein jenis ini? Namanya memang cukup asing, namun ternyata kwashiorkor bisa menyerang si kecil jika kebutuhan proteinnya tidak terpenuhi sejak kecil. Kwashiorkor adalah penyakit yang disebabkan oleh tubuh kekurangan protein dan kalori. Penyakit ini muncul karena sejumlah sel tubuh tidak mendapatkan protein, akhirnya fungsi sel tidak dapat bekerja secara normal.

Beberapa kondisi saat anak Anda mengalami kwashiorkor antara lain:

1. Stunting

Stunting merupakan salah satu penyakit yang paling sering dialami oleh anak – anak yang kekurangan protein. Penyakit ini semakin sering dan umum terjadi karena kurangnya kesadaran akan kebutuhan gizi seimbang dan kesehatan anak yang optimal. Anak yang memiliki penyakit kekurangan protein ini biasanya memiliki tubuh yang pendek. Hal ini terjadi karena kurangnya kolagen (sejenis protein berserat) yang membantu menjaga massa otot dan pertumbuhan tulang.

2. Masalah Rambut, Kulit dan Kuku

Salah satu fungsi protein adalah untuk mengoptimalkan jaringan tubuh, seperti rambut, kulit, dan kuku. Jenis protein penyusunnya adalah kolagen dan keratin. Jika si kecil kekurangan asupan protein ini, maka ia akan mengalami masalah, seperti rambut rontok, kuku lebih rapuh, serta kulit kering dan mengelupas.

3. Pembengkakan Di Organ Tubuh

Penyakit kekurangan protein seperti kwashiorkor juga dapat menyebabkan cairan dalam tubuh menumpuk di jaringan dan menyebabkan pembengkakan (edema). Biasanya edema terjadi di rongga perut. Oleh karena itu, anak yang mengalami oedema ditandai dengan perut yang buncit dan badan yang kurus.

Baca juga :   Penyakit Pada Sistem Gerak Yang Disebabkan Oleh Infeksi Kuman

3. Penyakit Kekurangan Protein: Hipoproteinemia

Hipoproteinemia adalah penyakit defisiensi protein yang cukup tinggi dalam darah. Selain kekurangan protein, anak dengan penyakit ini juga memiliki masalah kesehatan lainnya, seperti penyakit ginjal, penyakit hati, radang usus besar, dan celiac (penyakit autoimun).

Gejala penyakit kekurangan protein ini ringan hingga berat, antara lain:

  • Infeksi yang sering terjadi
  • Mudah terluka
  • Mengalami kelelahan yang luar biasa
  • Rambut tipis, kering dan rontok
  • Kulit kering dan mengelupas

4. Penyakit Kekurangan Protein: Marasmus Kwashiorkor

Penyakit defisiensi protein ini merupakan gabungan dari marasmus dan kwashiorkor. Artinya anak dengan kondisi ini akan memiliki berat badan kurang dari 60% dari berat badan anak normal seusianya. Selain itu, anak juga akan mengalami pembengkakan, badan lemas, mengalami masalah kompleks pada rambut, kulit, dan kuku.

Selain penyakit kekurangan protein di atas, ada juga efek buruk yang bisa dialami si kecil jika kekurangan asupan protein, antara lain:

1. Pertumbuhan Gigi Terhambat

Protein berfungsi untuk membentuk jaringan tubuh, salah satunya adalah gigi. Ketika pembentukan jaringan tidak berjalan dengan baik, otomatis pertumbuhan gigi akan terhambat.

2. Sistem Kekebalan Tubuh Lemah

Fungsi protein adalah sebagai antibodi. Pada masa kanak – kanak, daya tahan tubuh si kecil masih belum sempurna sehingga membutuhkan lebih banyak protein untuk melawan infeksi virus atau bakteri. Jika si kecil kekurangan protein, antibodi yang seharusnya terbentuk akan terhambat dan bisa menyebabkan daya tahan tubuh melemah.

3. Proses Penyembuhan Luka Lebih Lama

Fungsi lain dari protein adalah untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Inilah sebabnya jika anak kekurangan protein, luka yang dideritanya akan membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh karena kandungan proteinnya yang tidak mencukupi.

4. Fungsi Otak Terganggu

Asam amino dalam protein menghasilkan neurotransmiter yang berperan penting dalam perkembangan otak anak. Jika si kecil kekurangan protein, maka lebih sedikit neurotransmitter yang diproduksi. Akibatnya, fungsi otak berisiko mengalami gangguan dan kurang optimal dalam menyerap informasi.

5. Kesehatan Mental Bisa Terganggu

Gangguan fungsi otak juga bisa berdampak pada kesehatan mental anak lho, Moms. Ini karena asam amino dibutuhkan untuk memproduksi serotonin dan dopamin, yang merupakan hormon untuk meningkatkan mood dan menjaga kesehatan mental. Jika kedua hormon ini tidak diproduksi dengan baik, akibatnya bisa berdampak pada bad mood yang akan memicu gangguan perilaku pada anak.

Baca juga : Kerusakan Fungsi Hati Pada Seseorang Akan Mengakibatkan

Untuk mengatasi penyakit kekurangan protein, ada baiknya Anda berkonsultasi langsung dengan dokter untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan. Namun, jika si kecil tidak menunjukkan gejala – gejala di atas, sudah saatnya Anda melakukan tindakan pencegahan dengan memenuhi kebutuhan nutrisi si kecil agar tumbuh kembangnya lebih optimal.

Pencegahan Penyakit Kekurangan Protein

Pencegahan Penyakit Kekurangan Protein

Penyakit kekurangan protein dapat dicegah dengan menjalani pola hidup sehat dengan gizi seimbang. Meskipun penyakit ini disebabkan oleh kekurangan protein, bukan berarti Anda harus memberikan protein yang terlalu banyak kepada bayi, bukan? Pasalnya, kelebihan protein akan berbahaya bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Oleh karena itu, ibu perlu menyeimbangkan kebutuhan nutrisinya, yang meliputi:

  • Sumber karbohidrat, seperti nasi, roti, atau kentang
  • Sumber protein, seperti susu, telur, ikan, daging merah, daging putih, dan kacang – kacangan serta produk olahan lainnya

Sumber mineral dan vitamin, seperti buah – buahan, sayuran, dan susu serta produk olahannya
Selain memenuhi nutrisi dari makanan utama, Anda juga bisa memberikan si kecil susu sebagai sumber protein hewani yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Kandungan protein dalam susu membantu tubuh memproduksi 9 asam amino esensial (9AAE) yang mengoptimalkan pertumbuhan dan dapat mencegah risiko penyakit kekurangan protein pada anak.

Baca juga :   Cara Menjaga Kesehatan Tulang Seiring Bertambahnya Usia

Apa Penyebab Kekurangan Protein?

Apa Penyebab Kekurangan Protein

Protein merupakan nutrisi penting untuk otot dan jaringan tubuh. Sayangnya, tubuh tidak bisa menyimpan protein dalam waktu lama. Oleh karena itu, Anda perlu memenuhi kebutuhan protein harian Anda. Apa yang terjadi jika tubuh kekurangan protein?

Penyebab Kekurangan Protein

Kekurangan protein adalah kondisi umum ketika Anda tidak dapat memenuhi kebutuhan protein harian Anda dari makanan. Kabar baiknya, hal ini cukup jarang terjadi jika Anda memiliki pola makan yang seimbang.

Selain itu, ada beberapa kondisi lain yang dapat menyebabkan seseorang mengalami kekurangan gizi protein.

Konsumsi Protein Berkualitas Rendah

Kekurangan protein juga dapat terjadi akibat mengkonsumsi sumber protein berkualitas rendah. Misalnya, daging hewan dan beberapa sayuran memang mengandung protein.

Namun, jumlah urutan asam amino yang merupakan bentuk dasar protein dapat bervariasi. Ini mempengaruhi asupan protein seseorang, terutama pada mereka yang menjalani diet vegan.

Pola makan vegan memiliki aturan untuk menghilangkan semua makanan berbahan dasar daging sehingga asupan protein dibatasi. Kekurangan protein pada vegetarian dapat terjadi jika tidak mengkonsumsi sumber protein nabati yang sehat, seperti:

  • kacang-kacangan,
  • biji-bijian.

Menderita Penyakit Tertentu

Tidak hanya diet dengan kandungan protein rendah, kekurangan protein dapat disebabkan oleh kondisi medis tertentu, antara lain:

  • AIDS,
  • anoreksia nervosa,
  • kanker,
  • masalah pencernaan, seperti amiloidosis,
  • penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), hingga
    gagal ginjal.

Beberapa penyakit yang disebutkan biasanya membutuhkan ahli gizi untuk membantu merancang pola makan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda. Dengan begitu, kekurangan gizi, seperti protein, tidak mungkin terjadi.

Tanda – Tanda Kekurangan Protein

Tanda - Tanda Kekurangan Protein

Mengingat protein merupakan zat gizi yang dibutuhkan tubuh, kekurangan zat gizi ini dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan. Berikut adalah beberapa penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan tubuh terhambat dan tanda kekurangan protein yang dapat merugikan kesehatan Anda.

1. Mudah Lapar

Salah satu konsekuensi paling umum dari kekurangan protein adalah anda mudah merasa lapar. Soalnya, protein menjaga kadar gula darah tetap stabil. Ketika jumlah protein tidak cukup, maka kadar glukosa menjadi tidak seimbang.

Akibatnya, tubuh Anda akan mendorong Anda untuk terus makan seolah – olah Anda belum mendapatkan cukup energi. Jika dibiarkan, maka hal ini dapat meningkatkan risiko obesitas atau kelebihan berat badan.

2. Gangguan Kognitif

Selain mudah lapar, kekurangan protein juga bisa memicu naik turunnya gula darah yang bisa mempengaruhi kesehatan otak anda. Akibatnya, otak akan menjadi sulit untuk fokus, berpikir, hingga sering merasa linglung.

Hal ini telah dibuktikan melalui penelitian dari Brain Disorders & Therapy. Studi tersebut mengungkapkan bahwa diet rendah protein mempengaruhi komunikasi neuron yang mengubah sistem saraf (neurotransmitter).

Kondisi ini dapat terjadi karena tubuh tidak dapat melepaskan nutrisi karbohidrat untuk energi dan menggerakkan otak karena kekurangan protein. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan protein harian penting untuk menjaga kesehatan otak.

3. Beberapa Bagian Tubuh Membengkak (Edema)

Edema yang terjadi ketika cairan menumpuk di jaringan dan rongga tubuh yang akan menyebabkan pembengkakan. Salah satu penyebab edema adalah defisiensi protein.

Ketika Anda tidak mendapatkan asupan protein yang cukup, maka tubuh anda juga kekurangan albumin serum. Albumin serum adalah jenis protein yang disimpan yang diedarkan dalam darah.

Ketika tubuh kekurangan albumin, maka muncul pembengkakan pada bagian tubuh yang terkena. Bisa juga terjadi karena kekurangan protein membuat tubuh sulit untuk mengatur dan menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit.

Baca juga :   Nabi Yang Terkena Penyakit Kulit Dan Doa Kesembuhannya

Perlu diingat bahwa edema adalah gejala kekurangan protein yang parah, juga dikenal sebagai kwashiorkor. Kondisi ini umumnya ditandai dengan pembengkakan perut, atau perut buncit dengan tubuh kurus.

4. Kehilangan Massa Otot

Bukan rahasia lagi bahwa protein berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan kekuatan otot. Hal ini karena jaringan otot tubuh merupakan bagian yang menyimpan dan menggunakan protein paling banyak.

Ketika Anda mengalami kekurangan protein, maka protein di otot rangka akan diambil secara perlahan untuk dapat memenuhi kebutuhan protein. Tidak heran juga jika otot yang tidak mendapatkan cukup protein maka akan menyusut dan massanya juga akan turun.

Tidak hanya itu, Anda juga bisa merasakan nyeri dan kram karena kekurangan zat gizi makro ini.

5. Hati Berlemak

Umumnya, perlemakan hati disebabkan oleh penyalahgunaan alkohol yang berlebihan. Namun, masalah hati ini juga bisa disebabkan oleh kekurangan protein.

Penyebab pastinya tidak diketahui, tetapi para ahli berpikir itu mungkin karena tubuh tidak menghasilkan cukup lipoprotein. Jenis protein ini bertanggung jawab untuk mengangkut lemak.

Akibatnya, penumpukan lemak di hati maka bisa menyebabkan gagal fungsi hati jika dibiarkan.

6. Rambut Rontok

Ada banyak hal yang dapat menyebabkan rambut anda menjadi rontok dan salah satunya adalah kekurangan protein. Pasalnya, rambut mengandung 90% protein dan kekurangan protein bisa membuat rambut rapuh dan rontok.

Selain itu, rambut anda menjadi lebih kering, berubah warna, dan juga terlihat tipis.

Namun, para ahli masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apa penyebab pasti dari kekurangan protein yang mempengaruhi kesehatan rambut.

7. Masalah Kulit Dan Kuku

Bagi orang yang kekurangan protein maka sering mengalami perubahan pada kulit dan juga pada kuku. Bagaimana tidak, kedua hal ini kebanyakan terbuat dari protein.

Misalnya, kwashiorkor pada anak – anak dapat dibedakan berdasarkan ciri – ciri kulit bermasalah, seperti:

  • terkelupas atau retak,
  • terlihat memerah juga
  • ruam kulit.

Di sisi lain, kekurangan protein bisa membuat kuku mudah rapuh mengingat bagian ini mengandung cukup banyak keratin. Namun, masalah kulit dan kuku sering terjadi pada kasus defisiensi protein yang sangat parah.

8. Mudah Sakit

Protein berfungsi dalam membangun senyawa dalam sistem kekebalan tubuh. Jika jumlah protein dalam tubuh tidak mencukupi, tubuh bisa menjadi lemah untuk melawan virus atau bakteri. Tak heran jika tubuh rentan terhadap penyakit.

Sementara itu, kekurangan protein juga mengurangi produksi sel darah putih.

Jika Anda terluka, tubuh Anda membutuhkan protein baru untuk menyembuhkan dan membangun kembali sel, jaringan, dan kulit. Kekurangan protein tentu bisa membuat luka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dapat sembuh.

9. Tumbuh Kembang Anak Terhambat (Stunting)

Kita mungkin bertanya – tanya tentang Apa yang terjadi jika kita kekurangan protein pada masa pertumbuhan? Protein tidak hanya membantu menjaga massa otot dan tulang, tetapi juga penting untuk pertumbuhan anak. Kekurangan protein tentunya akan sangat berbahaya bagi anak – anak karena tubuh mereka sangat membutuhkan asupan protein yang seimbang.

Faktanya, pengerdilan adalah tanda umum kekurangan gizi pada masa kanak – kanak, lapor jurnal Nutrisi ibu & anak.

Oleh karena itu, orang tua perlu memperhatikan asupan gizi terutama protein pada anaknya untuk mencegah stunting.

Perlu diingat bahwa tanda – tanda kurang gizi di atas mirip dengan penyakit lainnya. Jika Anda merasa ada perubahan fisik yang mengganggu Anda, terutama saat sedang diet, konsultasikan dengan dokter dan ahli gizi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.